Hujan turun pelan sore itu, seperti ingin memperpanjang pertemuan kami yang serba kebetulan.
Aku masih ingat bagaimana kamu berdiri di bawah payung biru, menatap langit yang mendung seolah sedang menimbang sesuatu yang tak sempat diucapkan.
“Kau tahu,” katamu sambil tersenyum kecil, “aku suka hujan, tapi bukan perpisahan di dalamnya.”
Aku hanya tertawa pelan. Dalam hati, aku tahu, kalimat itu bukan sekadar tentang cuaca.
Kami berjalan berdampingan tanpa banyak kata. Sesekali, jemarimu hampir menyentuh tanganku, tapi selalu berhenti di udara. Ada jarak tipis di antara kita — terlalu dekat untuk disebut asing, tapi terlalu jauh untuk disebut memiliki.
Sampai akhirnya, kamu berhenti di depan lampu merah. “Kalau suatu hari kau rindu, ingat saja sore ini,” ucapmu.
Dan hujan pun berhenti.
Kini setiap kali langit menggelap, aku masih menatap payung biru di rak itu —
bukan karena aku belum rela,
tapi karena beberapa kenangan memang diciptakan untuk disimpan, bukan dilupakan.




