Istriku melahirkan anak kedua kami di rumah sakit. Tentu in this economy kami pengguna BPJS. Istriku ditempatkan di kamar kelas tiga yang berisikan empat buah bed di mana satu barisan isinya ibu yang bayinya meninggal dalam kandungan dan harus melakukan kuret.
Ada salah satu pasien yang posisi bed-nya persis di samping pintu masuk, dia lah pasien yang paling banyak dikunjungi penjenguk yang juga datang dalam jumlah banyak, setiap hari rame! Sementara aku, istriku lahiran pun aku tidak lapor ke orang tua dan mertuaku, niatnya biar gak perlu heboh di rumah sakit. Sialnya, kami selalu dihebohkan pengunjung pasien di samping kami selama kami di rumah sakit.
Guyub-guyub seperti ini merupakan budaya masyarakat Indonesia yang harusnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Terlebih, jika yang dibangun hanya solidaritas semu sekadar untuk memenuhi formalitas biar terkesan peduli, berempati dan hadir.
Misal, pada momen kematian, iring-iringan jenazah selalu ramai yang mengikuti seperti konvoi karnaval. Mengantar orang berangkat umroh ke bandara. Dan pada kasus yang kualami, menjenguk pasien di rumah sakit.
Dulu, konsep guyub adalah sistem sosial yang rasional. Pada masyarakat agraris, keterlibatan kolektif adalah bentuk “asuransi” sosial. Semua orang menolong karena tahu akan membutuhkan pertolongan balik. Kebersamaan adalah mata uang bertahan hidup. Tapi begitu dunia bergeser ke struktur urban dan digital, logika guyub tradisional kehilangan konteksnya. Bahkan bergeser ke arah seremonial yang tidak esensial.
Kini, yang tersisa hanya bentuk tanpa isi. Keguyuban menjadi upacara sosial yang dijalankan secara otomatis, tanpa makna emosional yang sebenarnya. Kehadiran berubah menjadi performa moral. Orang datang bukan untuk menyembuhkan duka, tapi untuk memastikan namanya tercatat di daftar pengunjung agar nanti, ketika perannya terbalik, “balasan” itu datang dengan setimpal.
Masyarakat kita gemar menjadikan empati sebagai tontonan. Yang ranahnya privasi diubah menjadi ajang partisipasi massal. Bahkan sakit dan duka pun tak punya hak untuk mendapatkan ruang ketenangan. Tradisi guyub versi mutakhir ini merupakan topeng solidaritas untuk menutupi wajah nafsu eksibisionisme sosial. Kehadiran yang terlalu euforia justru mereduksi makna hadir itu sendiri. Ia mendefinisikan ulang simpati menjadi keramaian dan belas kasih menjadi beban sosial. Dan tentu ini tak bisa disebut kebersamaan, ini hanya tekanan kolektif.
Di lapisan lebih dalam, guyub sebenarnya bukan sekadar bentuk “rasa kekeluargaan,” tapi juga alat kontrol. Siapa yang tidak ikut, dicurigai. Siapa yang memilih diam, dianggap sombong. Di sini guyub berfungsi seperti agama sosial mengatur moral, memberi pahala dan dosa berdasarkan standar partisipasi.
Dan seperti agama yang kehilangan spiritualitas, ritual guyub akhirnya dijalankan bukan karena maknanya, tapi karena ketakutan melanggarnya. Ia menjelma tirani halus yang memaksa orang untuk hadir bahkan ketika batin ingin diam.
Generasi Alpha tumbuh tanpa beban romantisme kolektivitas. Mereka mengenal kebersamaan tanpa “kedekatan”, solidaritas tanpa “kehadiran” dan bahkan dukungan tanpa pelukan. Secara sosiologis, mereka adalah hasil akhir dari modernitas yang paling apa adanya dan terbuka, manusia yang hidup dalam jaringan tapi merasa cukup sendiri.
Ironisnya, justru dari kejauhan mereka berpotensi mengembalikan makna hadir itu sendiri. Mereka tahu batas antara empati dan invasi privasi. Mereka tidak melihat nilai dalam ritual sosial yang penuh basa-basi. Bagi mereka, perhatian digital bisa sama tulusnya dengan kehadiran fisik, karena yang penting bukan partisipasinya, tapi kontribusinya.
Gen Alpha tidak akan membunuh nilai kebersamaan; mereka memurnikan nilai kebersamaan itu sendiri. Bahwa bersama tak harus secara harfiah membersamai, tapi memberi ruang untuk keleluasaan juga bagian dari partisipasi dan kontribusi.




