Klotok-klotok lewat seperti ingatan buruk yang keras kepala. Suara mesinnya membentur dinding-dinding kayu rumah terapung, memantul, saling tindih, sampai udara terasa penuh retakan kecil yang tak terlihat.
Aku duduk di dermaga. Menunggu azan. Menunggu sesuatu yang tidak tahu apa.
Di bawahku, sungai bergerak perlahan seperti hewan tua yang sudah hapal semua arah pulang.
Perempuan itu sudah ada di sana ketika aku datang—jongkok di tepi sungai, tubuhnya seperti garis tipis di antara bayang-bayang siang. Ia mencuci baju. Bayinya tidur di punggungnya. Atau pura-pura. Kita tidak pernah tahu apa yang dipilih bayi-bayi seperti itu.
Kain gendongannya tampak seperti tubuh lain yang tak ingin ikut hidup, tapi tetap dipaksa ikut.
Dari gang sempit, seorang laki-laki muncul. Napasnya pendek. Langkahnya seperti menahan sesuatu yang tidak berhasil ia tahan.
Ia mendekat.
Tanpa jeda.
Tanpa kata.
Tamparannya jatuh seperti benda tumpul dalam air.
Plak.
Klotok lewat pada saat yang sama. Suara keduanya bertubrukan. Aku tidak tahu mana yang lebih keras.
Perempuan itu hanya bergerak sedikit. Bayinya hanya menggeser pipi ke sisi lain. Air sungai tetap berjalan di bawah mereka, tidak menoleh, tidak terganggu.
Laki-laki itu bicara. Tapi kata-katanya tidak berhasil mencapai telingaku. Sungai selalu lebih keras daripada manusia.
Ia pergi. Begitu saja.
Perempuan itu kembali mengucek baju. Tangannya seperti mesin kecil yang tidak diizinkan berhenti—bahkan ketika tubuhnya butuh jeda, bahkan ketika dunia menamparnya.
Beberapa kaki kecil berlari di dermaga. Dua anak itu menadahkan tangan, menggumamkan doa-doa yang entah mereka mengerti atau hanya mereka ulang karena dunia mengajarkan begitu.
“Panjang umur… sehat selalu…”
Senyum mereka tipis.
Seperti garis yang mudah hilang kalau air sedikit naik.
Seseorang di dekatku bertanya pada salah satunya,
“Bapakmu di mana, Nak?”
Anak itu menatap ke sungai seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa kami lihat.
“Tidur,” katanya.
Sederhana. Datar.
Seakan itu satu-satunya jawaban yang mungkin.
Ia lalu pergi, meninggalkan kata itu menggantung di udara seperti bau solar yang tidak mau hilang.
Aku memandang ke arah perempuan itu lagi. Tangannya kini terhenti.
Ia menatap air.
Hanya air.
Seolah menunggu sesuatu muncul dari kedalamannya.
Angin lewat.
Kain gendongan bergoyang sedikit.
Bayinya masih diam.
Sungai tetap bergerak.
Perempuan itu bangkit. Membawa pakaian-pakaian basah dalam keranjang kecil. Ia berjalan menjauh pelan, langkahnya ringan tapi seperti menarik sesuatu yang berat di belakangnya.
Ia tidak menoleh.
Aku masih duduk di dermaga ketika klotok berikutnya lewat.
Mesinnya meraung, memecah permukaan sungai yang sebentar tadi tenang.
Gelembung-gelembung kecil muncul. Meletus satu-satu.
Entah ada yang jatuh tadi.
Entah tidak.
Sungai tidak pernah memberitahu siapa pun.



