Sebagai orang Kalimantan sekaligus penikmat karya Hindia. Single terbarunya berjudul “letdown” dengan MV yang menyoroti “kemegahan” sekaligus “sisi lain” Proyek Ibu Kota Nusantara, membuatku tersadar akan bahwa aku yang lahir, domisil dan besar kemungkinan juga akan mati di tanah Borneo ini, justru merasakan “jarak” yang jauh sekali antar aku dan IKN.
IKN secara geografis “tetangga,” tapi secara akses, “mental jarak,” dan distribusi infrastruktur, rasanya seperti di benua lain. Ironisnya, IKN dibangun atas nama pemerataan dan keadilan wilayah, tapi bagi banyak warga Kalimantan, justru terasa sebagai sesuatu yang eksklusif, steril, dan tidak menyapa kehidupan nyata masyarakat Kalimantan itu sendiri.
Bahkan tidak hanya IKN. Tempat-tempat eksotis di penjuru Kalimantan pun rasanya tidak terjangkau. Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur yang digadang-gadang sebagai Maldives-nya Indonesia, Danau Sentarum di Kalimantan Barat atau bahkan yang masih satu provinsi seperti Pulau Samber Gelap atau Pantai Tamiang Layang. Warga Kalimantan (atau setidaknya yang saya rasakan) tidak merasakan kemudahan yang sama dengan orang Jakarta yang bisa bepergian ke Jogja sekadar untuk mengisi akhir pekan.
Dalam konteks itu, Letdown jadi terasa seperti potret ganda: kritik terhadap rasa “tertinggal di tengah proyek besar.” Dan Hindia memilih IKN sebagai panggungnya bukan tanpa maksud—ia sedang menunjukkan kontras: antara citra “masa depan” yang terus dikampanyekan, dengan realita masyarakat yang bahkan tak punya tiket menuju masa depan itu.
Baris lirik “Dua dekade, ratusan janji yang tak selesai” seperti dialog dengan realitas di luar layar. Hindia menyanyikan letihnya menunggu, sementara kami di Kalimantan menunggu hal yang sama: kapan semua janji itu berhenti jadi lagu. Janji pembangunan yang katanya merata, tapi entah di mana ratanya. IKN di MV tampak bersih, rapi dan penuh harapan. Tapi dari sini, ia terasa seperti proyek masa depan yang tidak punya pintu masuk. Ironinya lagi, kami yang disebut tuan rumah, bahkan belum tahu di mana akses menuju gerbangnya.
Saya tidak anti terhadap IKN. Saya cuma lelah jadi penonton pembangunan di tanah sendiri yang tak terjangkau oleh masyarakat sekitar. Menonton MV Hindia terbaru kali ini seperti bercermin , sayangnya ia tidak merefleksikan masa depan, tapi hanya menampilkan jarak antara wacana dan realita.
Kalimantan itu indah, tapi akses menuju keindahan itu tak pernah sederhana. Ia seperti janji pembangunan, hanya ada di baliho, tapi tidak di jalannya. IKN adalah simbol dari seluruh Kalimantan “yang berkarat dan terbengkalai”.
Hutan adatnya dibabat, gunungnya dikeruk, bekas galian tambangnya dibiarkan, keindahan alamnya tak terjangkau, mafia berkuasa, penguasa mesra dengan mafia. Dan masyarakat hanya bisa menikmati semuanya dalam bentuk cerita.
Ku tak terima
Jika kita yang harus mengalah
Beranjak pergi
Di tanah ibu aku terjajah
Atau sebaliknya
Tegap kencangkan kuda-kuda
Tuang semen di mata kakiBerjuang dan tak henti di sini




